Senin, 29 Agustus 2022

Tugas 1.4.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI: Budaya Positif

 


       Budaya positif ialah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Adapun konsep inti dari Budaya Positif adalah disiplin positif, motivasi prilaku manusia (penghargaan dan hukuman), posisi kontrol, restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi. Konsep inti tersebut sangat berkaitan dengan Filosofi Pemikiran KHD bahwa seorang Guru harus dapat menuntun kodrat anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Disiplin positif merupakan pendekatan untuk mendidik anak agar untuk melakukan kontrol diri dan peembeentukan percaya diri. Motivasi prilaku manusia (penghargaan dan hukuman) dan Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).  Posisi kontrol adalah suatu program disiplin positif yang berpusat pada murid, yang dikembangkan oleh Diane Gossen dengan pendekatan Restitusi, yaitu Guru sebagai  Pemberi hukuman, Pembuat rasa bersalah, sebagai teeman, sebagai pemantau dan sebagai manajer. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Keyakinan kelas/sekolah adalah nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama yang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam (intriknsik). Segitiga Restitusi merupakan rancangan sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan  orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, yang terdiri atas Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity), Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehaviour), Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief).

Budaya positif yang kita laksanakan di sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara (KHD) yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Karena pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. Yang mana seeorang Guru diibaratkan seorang petani yang hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Guru hanya dapat mengelola dan menuntun siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi dan budaya positif.  Seperti yang ditekankan KHD, Pendidikan harus ke arah kecerdasan budi pekerti, mendidik ke arah kekeluargaan dan bersama-sama, mengembangkan keluhuran budi.

Budaya positif dapat diterapkan di sekolah apabila seorang guru, mengerti dan memahami nilai dan perannya sebagai pembawa perubahan. Seorang Guru tidaklah dapat melaksanakan Budaya Positif sendiri di sekolah. Seorang Guru  harus memiliki nilai kolaboratif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, mampu berkolaborasi dengan seluruh kekuatan yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Antara lain Kepala sekolah, rekan guru, murid, komite sekolah dan orang tua serta masyarakat di lingkungan sekolah dan stake holder atau lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya yang dapat mendukung pelaksanaan budaya positif.

Tidak hanya itu, dalam menjalankan Budaya Positif di sekolah, seorang Guru Penggerak haruslah memahami dan dapat melaksanakan perannya yaitu sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan mneggerakkan komunitas praktisi.

Filosofi pemikiran KHD serta Nilai dan peran Guru Penggerak merupakan modal awal bagi Guru Penggerak untuk  dapat melaksanakan budaya positif dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila (Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Gotong Royong, Berkebinekaan Global).  

Budaya positif haruslah menjadi bagian dari visi guru penggerak sehingga dapat mewujudkan visi guru penggerak yang diimpikan. Visi merupakan suatu rangkaian kata yang di dalamnya terdapat impian, cita-cita atau nilai inti dari suatu lembaga atau organisasi. Visi itu ibarat melihat sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga bagaikan bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah mencapai tujuan. Seorang guru penggerak diharapkan mampu menjadi "agent of change", pelopor perubahan di sekolahnya, sehingga harus memiliki visi yang jelas menggambarkan seperti apa layanan dan lingkungan pembelajaran yang perlu diberikan kepada siswa. Inkuiri Apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan.

IA direncanakan melalui tahapan BAGJA yaitu: Buat Pertanyaan Utama (Define), yaitu tahap merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover). Pada tahapan ini, kita mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream). Pada tahapan ini, kita dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap kempat, Jabarkan Rencana (Design). Di tahapan ini, kita dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver). Di bagian ini, kita memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan diajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

Dari tahapan BAGJA tersebut akan lahir pembiasaan-pembiasaan positif yang dikenal dengan Budaya Positif. Selain itu, dalam  menyusun program budaya positif juga diperlukan kolaborasi dengan murid. Budaya positif tidak dapat dibangun sendiri oleh Guru, harus berdasarkan  kesepakatan dari murid. Sehingga murid merasa nyaman dan  tidak terbebani dalam melaksanakan budaya positif sehingga terciptalah “Merdeka Belajar”.

 Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Dari materi yang telah dipelajari hal yang menarik yang saya rasakan adalah bagaimana membudayakan disiplin positif pada murid. Sehingga murid menjadi bertanggung jawab dengan keyakinan yang telah disepakati bersama.

Selama ini yang banyak terjadi, sekolah memberlakukan peraturan tanpa disertai pemahaman kepada murid  mengapa peraturan tersebut diberlakukan. Sehingga masih ada murid yang melanggar peraturan.  Kemudian penanganan terhadap murid yang melanggar aturan seharusnya mampu menanamkan pemahaman bahwa yang mereka lakukan tidak tepat dan telah melanggar kesepakatan bersama. Mereka diajak menemukan konsekuensi yang tepat untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat. Penyelesaian seperti ini bisa dilakukan dengan restitusi. 

Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Sebagai seorang pendidik dalam menghadapi beragam karakter murid dan menghadapi sikap murid yang tidak seesuai dengan nilai-nilai kebajikan univeersal, saya memposisikan diri saya sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi. Hal itu beertujuan untuk membuat murid saya mengetahui bagaimana seharusnya mereka bertanggung jawab dari sikap dan tindakan mereka dengan penuh keyakinan. 

Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Pengalaman saya dalam menangani kasus dua murid yang datang terlambat ke sekolah pada saat jadwal piket saya. Untuk membangun budaya positif, saya menempatkan diri di posisi manajer. Awalnya saya mengajukan pertanyaan tentang hal apakah yang kurang tepat yang telah mereka lakukan di pagi ini?, lalu mereka menjawab  “terlambat datang, bu”.  Pertanyaan saya lanjutkan dengan menggali penyebab keterlambatan mereka. Ternyata sepeda motor salah satu dari mereka mogok karena kehabisan bensin dan salah satunya membantu mendorong dengan kaki sambil menjalankan sepeda motornya, menuju warung yang ada menjual bensin. Pada saat itu, saya berusaha untuk lebih memahami kebutuhan dasar apa yang sebenarnya dibutuhkan murid saya, yaitu membutuhkan bantuan orang lain terhadap situasi yang dialaminya, begitu juga murid yang satunya ingin membantu temannya. Saya mengapresiasi tindakan positif yang mereka lakukan, salah satu murid yang berupaya meminta bantuan mendorongkan sepeda motornya agar tetap dapat hadir di sekolah, sedangkan murid yang satunya lagi rela menolong temannya meskipun tau dia akan terlambat, namun dia juga berupaya untuk tidak meninggalkan temannya agar dapat bersama-sama hadir di sekolah. Namun, sekolah memiliki peraturan  yang telah disepakati bersama, bagaimanapun keterlambatan merupakan salah satu bentuk pelanggaran atas kesepakatan tersebut. Dan murid tersebut juga menyadari pelanggaran dan siap untuk menerima konsekuensi dari keterlambatannya. Kemudian saya bertanya, konsekuensi apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Mereka menjawab, “terserah ibu saja, karena kami melanggar kesepakatan, kami siap menerimanya”. Tapi saya menyampaikan, “ibu mau kamu yang memilih konskuensi yang sesuai dengan keterlambatan kamu”. Kemudian mereka memilih sendiri konsekuensinya yaitu membersihkan rumput yang ada di sekitar mimbar upacara dan saya menyetujui pilihan mereka. Setelah selesai  mereka melapor kepada saya dan saya menanyakan bagaimana perasaan mereka ketika terlambat tadi? Mereka menjawab, “malu sama teman-teman dan kami berjanji tidak terlambat lagi”. Saya melihat penyesalan dari wajah mereka dan saya mengapresiasi mereka karena sudah bertanggung jawab atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Kemudian saya bertanya lagi kepada murid yang kehabisan bensin, ”apa yang akan kamu lakukan agar tidak terlambat lagi ke  sekolah? Dia menjawab, “saya akan mempeersiapkan kebeutuhan seekolah saya sejak malam dan mengecek kondisi sepeda motor saya”. Setelah itu, saya persilahkan mereka masuk ke ruang kelas dengan membawa surat izin masuk kelas. 

Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Budaya Positif menyadarkan saya akan pentingnya guru memahami kondisi lingkungan dan kondisi murid dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Saya merasa senang dengan restitusi yang dilakukan, saya merasa puas dan bahagia karena murid saya dapat bertanggung jawab dan menyadari disiplin itu penting untuk kemajuan belajar mereka.    

Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Hal yang sudah baik adalah penerapan keyakinan kelas yang dibuat berdasarkan usulan murid, dan disepakati bersama guru dan seluruh murid di kelas. Hal yang perlu diperbaiki adalah bagaimana dapat memposisikan diri sebagai manajer. 

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

Sebelum mempelajari modul ini, posisi yang sering saya gunakan dalam menghadapi murid yang sedang mengalami kesalahan adalah posisi teman dan pemantau. Perasaan saya pada saat itu penuh kkhawatiran, karena takut apabila akhirnya akan membiarkan mereka tetap berada dalam kesalahan. Jika tidak efektif, maka saya cenderung memposisikan diri sebagai penghukum. Namun terkadang kekhawatiran saya lebih tinggi, karena takut murid saya akan merasa sakit hati dan tidak menyukai saya karena saya menyadari posisi itu membuat murid merasa tidak nyaman.

Setelah mempelajari modul ini, saya saat ini leebih bisa mengontrol diri untuk tidak mudah emosi dan berusaha sebaik mungkin meerasa ingin tahu hal apa yang mendasari murid saya melakukan sebuah kesalahan, saya mmilih mmposisikan diri sebagai manajer. Saya merasa puas dan bangga dapat meenuntut murid untuk dapat mencarikan solusi dari masalah yang mereka hadapi sendiri serta dapat membuat murid memiliki keyakinan kelas dan bertanggung jawab.    

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Sebelum mempelajari modul 1.4, saya pernah menerapkan segitiga restitusi tetapi belum maksimal. Tahapan yang pernah saya lakukan adalah validasi tindakan dan menanyakan keyakinan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan belum mengena di hati murid saya karena kurangnya pengetahuan saya yang seharusnya saya memposisikan diri sebagai manajer. 

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Menurut saya, hal-hal penting lainnya utuk dipelajari adalah bagaimana melibatkan pihak-pihak terkait di lingkungan sekolah ikut berpartisipasi dalam mewujudkan Budaya Positif di sekolah, karena budaya positif tidak dapat diwujudkan sendiri, kolaborasi dengan seluruh pihak di sekolah sangat berpengaruh terhadap budaya positif.


TERIMA KASIH


RANCANGAN AKSI NYATA 1.4  

(KLIK DISINI)



PROFIL GURU PENGGERAK

  Yuniva Elwijaya GURU PENGGERAK KABUPATEN SIAK Nama   Lengkap            : Yuniva Elwijaya, S.Pd. Nama Panggilan          : Yuniva ( Bu Iv...