Jumat, 28 Oktober 2022

RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 


Filosofi Pratap Triloka KHD yang dikenal dengan Ing Ngarso Sung Thulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani, menjadi sangat relevan untuk dijadikan landasan dalam mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Karena sejatinya seorang guru adalah penuntun yang tugasnya adalah menuntun kodrat anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Makna kata "Penuntun", dapat dipahami sebagai "Pemimpin Pembelajaran", yang berpusat pada murid.

Berlandaskan filosofi Pratap Triloka KHD dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada budi pekerti. Budi (cipta, rasa, karsa) dan Pekerti (tenaga/raga) yang seimbang dan holistik. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. 

Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi contoh dan tauladan bagi murid-murid untuk mulai berani mengambil keputusan-keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Diharapkan bahwa murid akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih memperhatikan kepentingan muridnya.

Nilai - nilai kebajikan yang tertanam dalam diri kita sangat berpengaruh pada prinsip-prinsip pengambilan keputusan. Hal itu bisa diartikan tabiat atau sikap tertentu yang diyakini baik dan dijadikan salah satu sendi keutamaan dalam  budi pekerti. Contohnya : kejujuran , tanggung jawab, menghargai, toleransi, baik hati, menghormati, integritas, kasih sayang, rajin, gotong royong, percaya diri, kesabaran, dan masih banyak lagi. Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.

Untuk dapat mengambil keputusan diperlukan nilai-nilai atau prinsip dan pendekatan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.

Dalam dunia pendidikan Coaching merupakan proses untuk memaksimalkan potensi pada murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat murid mampu untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi

dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee dalam menemukan solusi dan menggali potensi yang ada dalam diri, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai bentuk tanggung jawab (TIRTA).

Pendekatan coaching model TIRTA menjadi selaras jika disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada anak. Keterampilan coaching akan membantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.

Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yg muncul dalam dialog saat coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.

 

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL). Harapannya proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindful), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada..

Sebagai seorang pendidik seringkali kita dihadapkan pada suatu keadaan di mana kita harus mengambil sebuah keputusan sulit. Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut merupakan dilema etika. Ada kalanya itu lebih berupa bujukan moral. Untuk itu diperlukan uji masalah terlebih dahulu dengan 9 langkah dalam pengambilan keputusan.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.

Kesulitan-kesulitan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini misalnya mengambil keputusan  untuk masalah/kasus siswa yang melanggar norma akan tetapi tinggal beberapa bulan siswa sudah lulus.

Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat "menuntun" dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

 

Seeebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. Pendidik adalah teladan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Guru sebagai pendidik yang peran utamanya adalah "menuntun" segala kodrat yang dimiliki oleh anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya, agar anak meraih kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun, guru berperan sebagai pamong, denagn menerapkan pratap trikolaka ing ngarso sung thulodo, ing madyo mbangun karso, dan tut wuri handayani dalam kepemimpinannya di pembelajaran. Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada Budi Pekerti anak. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. Semua disiplin ilmu dan pengambilan keputusan harus menuju kepada Kebijaksanaan.

Dibutuhkan nilai-nilai kebajikan agar setiap keputusan yang diambil oleh guru merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita. Nilai-nilai kebajikan tersebut dapat berupa : keadilan, tanggung Jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih  Sayang, rajin, komitmen, percaya Diri, kesabaran, dan masih banyak lagi. Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita. Selain itu terdapat nilai khusus bagi Calon guru Penggerak yang akan menjadi role model bagi murid yaitu : mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid , tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak

 

 

Sabtu, 08 Oktober 2022

Tugas 2.2.a.8 TUGAS KONEKSI ANTAR MATERI

 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

tugas KONEKSI ANTAR MATERI 2.2 
YUNIVA ELWIJAYA
CGP ANGKATAN 5 KABUPATEN SIAK

SILAHKAN KLIK 


atau


Tugas Koneksi Antar Materi 2.3 Coaching

   


        Pembelajaran pada modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik kali ini menyadarkan saya tentang peran seorang guru, bahwa guru merupakan coach bagi murid-muridnya. Guru menghargai tiap murid memiliki potensinya masing-masing, tugas guru adalah menggali potensi yang ada dalam diri murid. Dengan melakukan coaching kepada murid, diharapkan seorang guru dapat menggali potensi dalam diri murid untuk melakukan refleksi dan menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya sendiri.
     Selain itu, pelaksanaan supervisi yang biasa dilakukan untuk perbaikan proses pembelajaran di kelas, oleh Kepala sekolah kepada gurunya, juga harus dilaksanakan dengan paradigma coaching.
         Mengingat pelaksanaan supervisi di kelas yang telah lalu, selama menjadi guru, Meskipun sudah dibuatkan jadwal supervisi, sehari sebelumnya sudah tentu merasa was-was, jantung berasa berdetak lebih kencang dari hari biasanya, bahkan pagi menjelang supervisi diminta bertemu dulu dengan Kepala Sekolah, dan menyerahkan administrasi. Dengan menguasai emosional, sambil berkata kepada diri sendiri, bahwa supervisi dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar lebih sempurna, tak dapat disangkal bahwa perasaan kacau balau itu menghantui langkah menuju ruang kelas, berharap murid di kelas dapat kooperatif.
   Momok menakutkan itu harusnya tidak terjadi apabila supervisi yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan rutin dimulai dari pemantauan rencana pembelajaran, pelaksanaan serta penilaian pembelajaran. Sebelum dilaksanakan supervisi, perlu dilakukan wawancara Kepala Sekolah sebagai supervisor dengan guru yang akan disupervisi dan menyepakati hal-hal apa saja yang akan diobservasi, sehingga tidak terjadi miskomunikasi mengenai tujuan supervisi antara supervisor dan guru yang akan disupervisi. Perlu seorang supervisor menyampaikan bahwa kegiatan supervisi memberi pemahaman tentang cara-cara baru dalam mengajar di kelas agar materi pembelajaran disajikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan murid.
    Setelah mempelajari modul ini saya menemukan solusi atas ketakutan guru saat akan disupervisi oleh Kepala Sekolah, yang mana dalam modul ini kita memahami bahwa perlu adanya paradigma coaching dalam melaksanakan supervisi untuk dapat mengembangkan diri seorang pendidik, serta menggali potensi yang sudah ada dalam diri guru untuk membatunya mereflesikan proses pembelajaran yang telah dilakukannya.

           Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999)

Coaching merupakan Sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

Paradigma berpikir coaching, yaitu fokus pada coachee yang ingin dikembangkan, bersifat terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat serta mampu melihatpeluang baru dan masa depan.  

Menjadi seorang coach bukanlah sesuatu yang mudah, butuh latihan untuk memahami kompetensi inti coaching .  Adapun kompetensi inti coaching yang harus terus dilatih adalah presence (kehadiran penuh), mendengarkan aktif, dan dapat mengajukan pertanyaan yang berbobot.  

Salah satu referensi yang digunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure:

Sumber: KEMDIKBUDRISTEK 

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask  yang akan dijelaskan sebagai berikut:

R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee.  Perhatikan kata kunci yang diucapkan. 

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee.  Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”.  Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.

S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk  memastikan pemahaman kita sama.  Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee.

A (Ask/Tanya).  Sama dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot

Dibutuhkan kemampuan seorang coach untuk dapat menavigasi tujuan dan arah percakapan yang dibutuhkan coachee dengan menggunakan acuan interaksi berikut ini (Costa dan Garmston, 2016): Percakapan untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi. acuan umum sebuah alur percakapan coaching yang akan membantu peran coach dalam membuat percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA.

TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.  Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee).

2. Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)

3.  Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

4.  TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

        Coaching sangat sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang enekankan bahwa tujuan pendidikan itu adalah menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya.Oleh karena itu peran seorang guru (Coach) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselataman dan kebahagian sebagai manusia atau anggota masyarakat.

Kegiatan coaching merupakan salah satu proses "menuntun" kemerdekaan belajar murid dalam kegiatan pembelajaran di sekolah untuk mengeksplorasi dirinya guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya . Proses Coaching merupakan Proses aktivasi kerja otak murid dengan pertanyaan reflektif.Pertanyaan reflektif  membuat murid  dapat berpikir kritis.

Coaching menjadikan murid nyaman untuk mengeksplorasi dirinya karena prinsipnya adalah kemitraan (setara, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah seperti sorang rekan berpikir untuk menyelesaikan masalahnya sendiri). Prinsip kedua adalah sebuah proses kreatif (mengantarkan seseorang dari situasi dia saat ini ke situasi yang diinginkannya di masa depan). Pinsip ketiga adalah memaksimalkan potensi (perlu adanya tindak lanjut yang diputuskan oleh cochee itu sendiri).

Coaching  menjadikan murid sebagai mitranya, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menuntun tumbuh kembang anak didik. Selain menjadi seorang pendidik yang profesional guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik. Keterampilan coaching memberikan dampak yang positif terhadap profesi seorang guru. Karena dengan melakukan coaching seorang guru akan lebih mengetahui kekuatan muridnya, akan bisa memahami karakter murid serta guru juga bisa menjadi mitra untuk murid-muridnya. Dengan melakukan kegiatan coaching maka guru akan lebih mudah dalam mengidentifikasi kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapi oleh murid. 

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, murid akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.

Dengan adanya coaching guru bisa membimbing murid sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.Sehingga anak didik mampu mengekspolari kekuatan yang dimilikinya. Guru sebagai fasilitator akan menuntun muridnya untuk tumbuh kembang mencapai kodratnya.

Selain itu, coaching dengan rekan sejawat, juga merupakan salah satu peran guru penggerak yaitu dapat menjadi coach bagi rekan guru lain. Membantu rekan guru lain untuk juga mengembangkan dirinya melalui refleksi terhadap kompetensi yang dimiliki, untuk dapat menyediakan menfasilitasi pembelajaran yang berpihak pada murid.

PROFIL GURU PENGGERAK

  Yuniva Elwijaya GURU PENGGERAK KABUPATEN SIAK Nama   Lengkap            : Yuniva Elwijaya, S.Pd. Nama Panggilan          : Yuniva ( Bu Iv...