Kamis, 15 Desember 2022

PROFIL GURU PENGGERAK

 

Yuniva Elwijaya
GURU PENGGERAK KABUPATEN SIAK

Nama  Lengkap         : Yuniva Elwijaya, S.Pd.
Nama Panggilan        : Yuniva ( Bu Iva)
Tempat tanggal lahir  : Kototinggi, 16 Juni 1988
Tempat tugas              : SMA Negeri 4 Kandis
Kota Asal                   : Kab. Limapuluh Kota, Sumatera Barat




Kamis, 03 November 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2

 

PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

YUNIVA ELWIJAYA

CGP ANGKATAN 5 KAB. SIAK

 

1. Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. 

Pengelolaan Sumber Daya terdiri atas dua jenis yaitu Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) dan Pendekatan berbasis aset (asset-based approach). Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik sehingga membuat perasaan pesimis. Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) merupakan cara praktis menggali hal-hal yang positif sehingga timbul perasaan optimis walaupun dengan sumber daya yang minim. Seorang pemimpin hendaknya melakukan pengelolaan sumber daya menggunakan pendekatan berbasis asset dan menerapkannya di dalam ekosistem sekolah, baik di kelas, sekolah maupun masyarakat sekitar sekolah. 

Kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar pada dasarnya merupakan sumber daya. Semuanya bisa dikelola dengan baik berdasarkan kekuatan dan potensinya masing-masing. Namun demikian, ketiganya juga menjadi sasaran kebermanfaatan dari sumber daya yang ada. Implementasi pengelolaan sumber daya akan berhasil apabila terlebih dahulu CGP melakukan pemetaan atau identifikasi 7 aset yang dimiliki sekolah beserta strategi pemanfaatannya. Ketujuh aset tersebut, yaitu modal manusia, fisik, sosial, lingkungan/alam, finansial, politik serta agama dan budaya.

Dengan membangun sisi positif yang dimiliki, maka kekuatan sumber daya yang ada dipastikan akan meningkat dan kemudian akan berkembang secara berkelanjutan. Untuk itu, tentu dibutuhkan banyak hal diantaranya, perencanaan kegiatan yang matang, koordinasi dengan kepala sekolah, pemetaan aset sekolah, diseminasi kepada sejawat melalui pelatihan pemanfaatan blog, dan kolaborasi dengan semua pihak. 

2.  Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.  

Proses pembelajaran murid yang lebih berkualitas, dapat diwujudkan melalui optimisme seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber daya yang tepat. Pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. Hal ini menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada pada murid. Jika sudah sesuai tentu murid akan merasa bahagia karena terlibat langsung dalam proses pengelolaannya. Selain itu, juga akan bahagia karena menjadi bagian sebuah proses. Hal ini akan membuat murid merasa memiliki aset yang ada di kelas dan sekolah mereka.

Rasa memiliki ini akan membuat mereka lebih menghargai dan menjaganya. Kondisi seperti ini akan membuat kelas menjadi lebih kondusif. Kondisi hati bahagia yang didukung kelas menyenangkan akan membuat murid menjadi lebih tergerak untuk belajar. Pada akhirnya dari kesungguhan belajar akan dapat menciptakan murid berkualitas. Tentu juga murid lebih memahami nilai-nilai kebajikan yang diyakini saat pengelolaan aset kelas. 

3.  Berikan beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.

Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya merupakan upaya mengelola segala kekuatan dan potensi yang ada melalui tuntunan, sehingga murid bisa bertumbuh dengan bahagia menjadi manusia seutuhnya sesuai kodrat, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Dari kesimpulan di atas, terdapat beberapa kata kunci yang menghubungkan materi pengelolaan sumber daya dengan materi lainnya. Kata-kata kunci ditunjukkan dengan cetak tebal dalam kesimpulan di atas, yaitu kekuatan dan potensi, tuntutan, murid, bertumbuh, bahagia, manusia seutuhnya, kodrat, dan anggota masyarakat. 

a.    Filosofi KHD (Modul 1.1)

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat."

Anak-anak disini adalah murid yang merupakan modal manusia yang terdapat di sekolah yang dapat dikembangkan potensinya. 

b.    Nilai dan Peran Guru Penggerak (Modul 1.2)

Guru dalam hal ini adalah modal manusia sebagai pemimpin pembelajaran yang memiliki nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Seorang guru juga berperan sebagai pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, serta mewujudkan kepemimpinan murid. Dengan nilai dan peran guru penggerak yang dimiliki oleh guru, maka modal manusia yang dimiliki akan menjadi potensi/asset yang kuat demi kepentingan murid. 

c.     Visi Guru Penggerak (Modul 1.3)

Visi guru penggerak berbasis IA (Inkuiri Apresiatif) yang dituangkan dalam canvas BAGJA, juga dipakai dalam pengelolaan sumber daya. Menurut Cooperrider & Whitney (2005), Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan.  

d.    Budaya Positif (Modul 1.4)

Budaya positif adalah sikap, nilai-nilai kebajikan, keyakinan-keyakinan, kegiatan-kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh guru dan murid dari dalam dirinya dan mempunyai dampak positif terhadap oranglain. Menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi tidak dapat dilakukan oleh sendiri. Butuh kerja sama semua unsur untuk mendukung terciptanya budaya sekolah. 

e.    Pembelajaran Diferensiasi (Modul 2.1)

Pembelajaran Berdiferensiasi adalah suatu kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat keputusan guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas yang berorientasi kepada kebutuhan murid yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran, respon guru, lingkungan belajar, manajemen kelas dan penilaian berkelanjutan.

Pembelajaran berdiferensiasi ini dapat terwujud dengan pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah, baik itu modal manusia (guru dan murid), modal fisik, modal budaya, dll. 

f.     Pembelajaran Sosial dan Emosional (Modul 2.2)

PSE adalah Pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Komunitas dalam hal ini adalah kumpulan manusia yang terdapat dalam modal manusia. PSE juga dapat menggunakan modal fisik juga modal lingkungan yang ada di sekolah. Dengan mengoptimalkan sumber daya di sekolah sehingga capaian PSE akan maksimal. 

g.    Coaching (Modul 2.3)

Choacing adalah suatu kegiatan kolaborasi yang dilakukan untuk membantu memaksimalkan potensi lawan bicara (choachee). Pengembangan kekuatan dan potensi diri inilah yang menjadi tugas seorang coach (pendidik/pamong). Apakah pengembangan diri seorang coachee cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang coachee. Pengembangan potensi ini sama dengan yang digunakan dalam pengelolaan sumber daya. Dalam hal ini modal manusia dalam menuntun segala kodrat alam. 

h.    Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan (Modull 3.1)

Seorang pemimpin pembelajaran akan selalu dihadapkan dengan dua situasi yaitu dilema etika dan bujukan moral ketika dihadapkan dengan pengambilan keputusan yang tepat. Dengan bekal pengetahuan pengambilan keputusan yang baik, seorang pemimpin pembelajaran diharapkan dapat merumuskan keputusan dengan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Hal tersebut sangat berkaitan dengan pengelolaan asset atau sumber daya sekolah untuk kepentingan murid. 

4.  Ceritakan pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini, serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya, terkadang saya masih berpikir berbasis kekurangan sehingga apa perasaan akan mengarah pada sisi negative, pesimis dan kegagalan. Tetapi setelah mempelajari modul ini, seorang pemimpin harus selalu berpikir berbasis kekuatan/potensi/asset sehingga akan berpikir positif dan berhasil walaupun mempunyai asset yang kurang. Maka selanjutnya saya akan terus merubah paradigma bahwa Pemimpin pembelajar harus menggunakan pendekatan berbasis asset dalam pengelolaan sumber daya dan mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah maupun masyarakat sekitar sekolah. Karena dengan lebih banyak membangun sisi positif yang dimiliki, maka kekuatan sumber daya yang ada dipastikan akan meningkat dan kemudian akan berkembang secara berkelanjutan.

 

 

Jumat, 28 Oktober 2022

RANGKUMAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 


Filosofi Pratap Triloka KHD yang dikenal dengan Ing Ngarso Sung Thulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani, menjadi sangat relevan untuk dijadikan landasan dalam mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Karena sejatinya seorang guru adalah penuntun yang tugasnya adalah menuntun kodrat anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Makna kata "Penuntun", dapat dipahami sebagai "Pemimpin Pembelajaran", yang berpusat pada murid.

Berlandaskan filosofi Pratap Triloka KHD dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada budi pekerti. Budi (cipta, rasa, karsa) dan Pekerti (tenaga/raga) yang seimbang dan holistik. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. 

Pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran di kelas yang berpihak dan memerdekakan murid akan menjadi contoh dan tauladan bagi murid-murid untuk mulai berani mengambil keputusan-keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Diharapkan bahwa murid akan lebih nyaman untuk berkomunikasi dan menentukan pilihan keputusan bersama dengan guru , dan para guru akan lebih memperhatikan kepentingan muridnya.

Nilai - nilai kebajikan yang tertanam dalam diri kita sangat berpengaruh pada prinsip-prinsip pengambilan keputusan. Hal itu bisa diartikan tabiat atau sikap tertentu yang diyakini baik dan dijadikan salah satu sendi keutamaan dalam  budi pekerti. Contohnya : kejujuran , tanggung jawab, menghargai, toleransi, baik hati, menghormati, integritas, kasih sayang, rajin, gotong royong, percaya diri, kesabaran, dan masih banyak lagi. Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup.

Untuk dapat mengambil keputusan diperlukan nilai-nilai atau prinsip dan pendekatan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita.

Dalam dunia pendidikan Coaching merupakan proses untuk memaksimalkan potensi pada murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat murid mampu untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi

dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee dalam menemukan solusi dan menggali potensi yang ada dalam diri, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai bentuk tanggung jawab (TIRTA).

Pendekatan coaching model TIRTA menjadi selaras jika disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada anak. Keterampilan coaching akan membantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.

Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yg muncul dalam dialog saat coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.

 

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL). Harapannya proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindful), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada..

Sebagai seorang pendidik seringkali kita dihadapkan pada suatu keadaan di mana kita harus mengambil sebuah keputusan sulit. Namun, perlu kita ketahui bahwa tidak semua keputusan sulit tersebut merupakan dilema etika. Ada kalanya itu lebih berupa bujukan moral. Untuk itu diperlukan uji masalah terlebih dahulu dengan 9 langkah dalam pengambilan keputusan.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.

Kesulitan-kesulitan yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini misalnya mengambil keputusan  untuk masalah/kasus siswa yang melanggar norma akan tetapi tinggal beberapa bulan siswa sudah lulus.

Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat "menuntun" dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

 

Seeebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.

Keputusan-keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. Pendidik adalah teladan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.

Guru sebagai pendidik yang peran utamanya adalah "menuntun" segala kodrat yang dimiliki oleh anak, baik kodrat alam maupun kodrat zamannya, agar anak meraih kemerdekaannya dalam belajar. Dalam proses menuntun, guru berperan sebagai pamong, denagn menerapkan pratap trikolaka ing ngarso sung thulodo, ing madyo mbangun karso, dan tut wuri handayani dalam kepemimpinannya di pembelajaran. Pratap Triloka KHD yang dikedepankan oleh guru dalam pengambilan keputusan di kelas akan membawa kepada perubahan positif pada Budi Pekerti anak. Kesempurnaan budi pekerti akan membawa anak pada kebijaksanaan. Semua disiplin ilmu dan pengambilan keputusan harus menuju kepada Kebijaksanaan.

Dibutuhkan nilai-nilai kebajikan agar setiap keputusan yang diambil oleh guru merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim bagi semua pihak, terutama bagi kepentingan /keberpihakan pada anak didik kita. Nilai-nilai kebajikan tersebut dapat berupa : keadilan, tanggung Jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih  Sayang, rajin, komitmen, percaya Diri, kesabaran, dan masih banyak lagi. Mengajarkan nilai-nilai kebajikan merupakan hal kunci yang perlu diajarkan kepada murid-murid kita. Selain itu terdapat nilai khusus bagi Calon guru Penggerak yang akan menjadi role model bagi murid yaitu : mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid , tentunya akan sangat mempengaruhi paradigma dan prinsip pengambilan keputusan seorang Guru Penggerak

 

 

Sabtu, 08 Oktober 2022

Tugas 2.2.a.8 TUGAS KONEKSI ANTAR MATERI

 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

tugas KONEKSI ANTAR MATERI 2.2 
YUNIVA ELWIJAYA
CGP ANGKATAN 5 KABUPATEN SIAK

SILAHKAN KLIK 


atau


Tugas Koneksi Antar Materi 2.3 Coaching

   


        Pembelajaran pada modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik kali ini menyadarkan saya tentang peran seorang guru, bahwa guru merupakan coach bagi murid-muridnya. Guru menghargai tiap murid memiliki potensinya masing-masing, tugas guru adalah menggali potensi yang ada dalam diri murid. Dengan melakukan coaching kepada murid, diharapkan seorang guru dapat menggali potensi dalam diri murid untuk melakukan refleksi dan menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya sendiri.
     Selain itu, pelaksanaan supervisi yang biasa dilakukan untuk perbaikan proses pembelajaran di kelas, oleh Kepala sekolah kepada gurunya, juga harus dilaksanakan dengan paradigma coaching.
         Mengingat pelaksanaan supervisi di kelas yang telah lalu, selama menjadi guru, Meskipun sudah dibuatkan jadwal supervisi, sehari sebelumnya sudah tentu merasa was-was, jantung berasa berdetak lebih kencang dari hari biasanya, bahkan pagi menjelang supervisi diminta bertemu dulu dengan Kepala Sekolah, dan menyerahkan administrasi. Dengan menguasai emosional, sambil berkata kepada diri sendiri, bahwa supervisi dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar lebih sempurna, tak dapat disangkal bahwa perasaan kacau balau itu menghantui langkah menuju ruang kelas, berharap murid di kelas dapat kooperatif.
   Momok menakutkan itu harusnya tidak terjadi apabila supervisi yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan rutin dimulai dari pemantauan rencana pembelajaran, pelaksanaan serta penilaian pembelajaran. Sebelum dilaksanakan supervisi, perlu dilakukan wawancara Kepala Sekolah sebagai supervisor dengan guru yang akan disupervisi dan menyepakati hal-hal apa saja yang akan diobservasi, sehingga tidak terjadi miskomunikasi mengenai tujuan supervisi antara supervisor dan guru yang akan disupervisi. Perlu seorang supervisor menyampaikan bahwa kegiatan supervisi memberi pemahaman tentang cara-cara baru dalam mengajar di kelas agar materi pembelajaran disajikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan murid.
    Setelah mempelajari modul ini saya menemukan solusi atas ketakutan guru saat akan disupervisi oleh Kepala Sekolah, yang mana dalam modul ini kita memahami bahwa perlu adanya paradigma coaching dalam melaksanakan supervisi untuk dapat mengembangkan diri seorang pendidik, serta menggali potensi yang sudah ada dalam diri guru untuk membatunya mereflesikan proses pembelajaran yang telah dilakukannya.

           Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999)

Coaching merupakan Sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

Paradigma berpikir coaching, yaitu fokus pada coachee yang ingin dikembangkan, bersifat terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat serta mampu melihatpeluang baru dan masa depan.  

Menjadi seorang coach bukanlah sesuatu yang mudah, butuh latihan untuk memahami kompetensi inti coaching .  Adapun kompetensi inti coaching yang harus terus dilatih adalah presence (kehadiran penuh), mendengarkan aktif, dan dapat mengajukan pertanyaan yang berbobot.  

Salah satu referensi yang digunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure:

Sumber: KEMDIKBUDRISTEK 

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask  yang akan dijelaskan sebagai berikut:

R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee.  Perhatikan kata kunci yang diucapkan. 

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee.  Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”.  Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.

S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk  memastikan pemahaman kita sama.  Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee.

A (Ask/Tanya).  Sama dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot

Dibutuhkan kemampuan seorang coach untuk dapat menavigasi tujuan dan arah percakapan yang dibutuhkan coachee dengan menggunakan acuan interaksi berikut ini (Costa dan Garmston, 2016): Percakapan untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi. acuan umum sebuah alur percakapan coaching yang akan membantu peran coach dalam membuat percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA.

TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.  Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee).

2. Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)

3.  Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

4.  TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

        Coaching sangat sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang enekankan bahwa tujuan pendidikan itu adalah menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya.Oleh karena itu peran seorang guru (Coach) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselataman dan kebahagian sebagai manusia atau anggota masyarakat.

Kegiatan coaching merupakan salah satu proses "menuntun" kemerdekaan belajar murid dalam kegiatan pembelajaran di sekolah untuk mengeksplorasi dirinya guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya . Proses Coaching merupakan Proses aktivasi kerja otak murid dengan pertanyaan reflektif.Pertanyaan reflektif  membuat murid  dapat berpikir kritis.

Coaching menjadikan murid nyaman untuk mengeksplorasi dirinya karena prinsipnya adalah kemitraan (setara, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah seperti sorang rekan berpikir untuk menyelesaikan masalahnya sendiri). Prinsip kedua adalah sebuah proses kreatif (mengantarkan seseorang dari situasi dia saat ini ke situasi yang diinginkannya di masa depan). Pinsip ketiga adalah memaksimalkan potensi (perlu adanya tindak lanjut yang diputuskan oleh cochee itu sendiri).

Coaching  menjadikan murid sebagai mitranya, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menuntun tumbuh kembang anak didik. Selain menjadi seorang pendidik yang profesional guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik. Keterampilan coaching memberikan dampak yang positif terhadap profesi seorang guru. Karena dengan melakukan coaching seorang guru akan lebih mengetahui kekuatan muridnya, akan bisa memahami karakter murid serta guru juga bisa menjadi mitra untuk murid-muridnya. Dengan melakukan kegiatan coaching maka guru akan lebih mudah dalam mengidentifikasi kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapi oleh murid. 

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, murid akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.

Dengan adanya coaching guru bisa membimbing murid sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.Sehingga anak didik mampu mengekspolari kekuatan yang dimilikinya. Guru sebagai fasilitator akan menuntun muridnya untuk tumbuh kembang mencapai kodratnya.

Selain itu, coaching dengan rekan sejawat, juga merupakan salah satu peran guru penggerak yaitu dapat menjadi coach bagi rekan guru lain. Membantu rekan guru lain untuk juga mengembangkan dirinya melalui refleksi terhadap kompetensi yang dimiliki, untuk dapat menyediakan menfasilitasi pembelajaran yang berpihak pada murid.

Senin, 29 Agustus 2022

Tugas 1.4.a.8 KONEKSI ANTAR MATERI: Budaya Positif

 


       Budaya positif ialah  nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.

Adapun konsep inti dari Budaya Positif adalah disiplin positif, motivasi prilaku manusia (penghargaan dan hukuman), posisi kontrol, restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi. Konsep inti tersebut sangat berkaitan dengan Filosofi Pemikiran KHD bahwa seorang Guru harus dapat menuntun kodrat anak agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Disiplin positif merupakan pendekatan untuk mendidik anak agar untuk melakukan kontrol diri dan peembeentukan percaya diri. Motivasi prilaku manusia (penghargaan dan hukuman) dan Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).  Posisi kontrol adalah suatu program disiplin positif yang berpusat pada murid, yang dikembangkan oleh Diane Gossen dengan pendekatan Restitusi, yaitu Guru sebagai  Pemberi hukuman, Pembuat rasa bersalah, sebagai teeman, sebagai pemantau dan sebagai manajer. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Keyakinan kelas/sekolah adalah nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama yang akan lebih memotivasi seseorang dari dalam (intriknsik). Segitiga Restitusi merupakan rancangan sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan  orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, yang terdiri atas Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity), Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehaviour), Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief).

Budaya positif yang kita laksanakan di sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara (KHD) yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Karena pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. Yang mana seeorang Guru diibaratkan seorang petani yang hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. Guru hanya dapat mengelola dan menuntun siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan potensi dan budaya positif.  Seperti yang ditekankan KHD, Pendidikan harus ke arah kecerdasan budi pekerti, mendidik ke arah kekeluargaan dan bersama-sama, mengembangkan keluhuran budi.

Budaya positif dapat diterapkan di sekolah apabila seorang guru, mengerti dan memahami nilai dan perannya sebagai pembawa perubahan. Seorang Guru tidaklah dapat melaksanakan Budaya Positif sendiri di sekolah. Seorang Guru  harus memiliki nilai kolaboratif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, mampu berkolaborasi dengan seluruh kekuatan yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Antara lain Kepala sekolah, rekan guru, murid, komite sekolah dan orang tua serta masyarakat di lingkungan sekolah dan stake holder atau lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya yang dapat mendukung pelaksanaan budaya positif.

Tidak hanya itu, dalam menjalankan Budaya Positif di sekolah, seorang Guru Penggerak haruslah memahami dan dapat melaksanakan perannya yaitu sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan mneggerakkan komunitas praktisi.

Filosofi pemikiran KHD serta Nilai dan peran Guru Penggerak merupakan modal awal bagi Guru Penggerak untuk  dapat melaksanakan budaya positif dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila (Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Gotong Royong, Berkebinekaan Global).  

Budaya positif haruslah menjadi bagian dari visi guru penggerak sehingga dapat mewujudkan visi guru penggerak yang diimpikan. Visi merupakan suatu rangkaian kata yang di dalamnya terdapat impian, cita-cita atau nilai inti dari suatu lembaga atau organisasi. Visi itu ibarat melihat sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga bagaikan bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah mencapai tujuan. Seorang guru penggerak diharapkan mampu menjadi "agent of change", pelopor perubahan di sekolahnya, sehingga harus memiliki visi yang jelas menggambarkan seperti apa layanan dan lingkungan pembelajaran yang perlu diberikan kepada siswa. Inkuiri Apresiatif (IA) dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath, 2016). Kita akan memakai pendekatan IA sebagai ‘alat olahraga’ untuk kita berlari mencapai garis “finish” kita yaitu visi yang kita impikan.

IA direncanakan melalui tahapan BAGJA yaitu: Buat Pertanyaan Utama (Define), yaitu tahap merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran (Discover). Pada tahapan ini, kita mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di kelas maupun sekolah serta pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi (Dream). Pada tahapan ini, kita dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di lingkungan pembelajaran. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap kempat, Jabarkan Rencana (Design). Di tahapan ini, kita dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi (Deliver). Di bagian ini, kita memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan diajak dan pasti mau untuk terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

Dari tahapan BAGJA tersebut akan lahir pembiasaan-pembiasaan positif yang dikenal dengan Budaya Positif. Selain itu, dalam  menyusun program budaya positif juga diperlukan kolaborasi dengan murid. Budaya positif tidak dapat dibangun sendiri oleh Guru, harus berdasarkan  kesepakatan dari murid. Sehingga murid merasa nyaman dan  tidak terbebani dalam melaksanakan budaya positif sehingga terciptalah “Merdeka Belajar”.

 Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Dari materi yang telah dipelajari hal yang menarik yang saya rasakan adalah bagaimana membudayakan disiplin positif pada murid. Sehingga murid menjadi bertanggung jawab dengan keyakinan yang telah disepakati bersama.

Selama ini yang banyak terjadi, sekolah memberlakukan peraturan tanpa disertai pemahaman kepada murid  mengapa peraturan tersebut diberlakukan. Sehingga masih ada murid yang melanggar peraturan.  Kemudian penanganan terhadap murid yang melanggar aturan seharusnya mampu menanamkan pemahaman bahwa yang mereka lakukan tidak tepat dan telah melanggar kesepakatan bersama. Mereka diajak menemukan konsekuensi yang tepat untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat. Penyelesaian seperti ini bisa dilakukan dengan restitusi. 

Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Sebagai seorang pendidik dalam menghadapi beragam karakter murid dan menghadapi sikap murid yang tidak seesuai dengan nilai-nilai kebajikan univeersal, saya memposisikan diri saya sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi. Hal itu beertujuan untuk membuat murid saya mengetahui bagaimana seharusnya mereka bertanggung jawab dari sikap dan tindakan mereka dengan penuh keyakinan. 

Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Pengalaman saya dalam menangani kasus dua murid yang datang terlambat ke sekolah pada saat jadwal piket saya. Untuk membangun budaya positif, saya menempatkan diri di posisi manajer. Awalnya saya mengajukan pertanyaan tentang hal apakah yang kurang tepat yang telah mereka lakukan di pagi ini?, lalu mereka menjawab  “terlambat datang, bu”.  Pertanyaan saya lanjutkan dengan menggali penyebab keterlambatan mereka. Ternyata sepeda motor salah satu dari mereka mogok karena kehabisan bensin dan salah satunya membantu mendorong dengan kaki sambil menjalankan sepeda motornya, menuju warung yang ada menjual bensin. Pada saat itu, saya berusaha untuk lebih memahami kebutuhan dasar apa yang sebenarnya dibutuhkan murid saya, yaitu membutuhkan bantuan orang lain terhadap situasi yang dialaminya, begitu juga murid yang satunya ingin membantu temannya. Saya mengapresiasi tindakan positif yang mereka lakukan, salah satu murid yang berupaya meminta bantuan mendorongkan sepeda motornya agar tetap dapat hadir di sekolah, sedangkan murid yang satunya lagi rela menolong temannya meskipun tau dia akan terlambat, namun dia juga berupaya untuk tidak meninggalkan temannya agar dapat bersama-sama hadir di sekolah. Namun, sekolah memiliki peraturan  yang telah disepakati bersama, bagaimanapun keterlambatan merupakan salah satu bentuk pelanggaran atas kesepakatan tersebut. Dan murid tersebut juga menyadari pelanggaran dan siap untuk menerima konsekuensi dari keterlambatannya. Kemudian saya bertanya, konsekuensi apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Mereka menjawab, “terserah ibu saja, karena kami melanggar kesepakatan, kami siap menerimanya”. Tapi saya menyampaikan, “ibu mau kamu yang memilih konskuensi yang sesuai dengan keterlambatan kamu”. Kemudian mereka memilih sendiri konsekuensinya yaitu membersihkan rumput yang ada di sekitar mimbar upacara dan saya menyetujui pilihan mereka. Setelah selesai  mereka melapor kepada saya dan saya menanyakan bagaimana perasaan mereka ketika terlambat tadi? Mereka menjawab, “malu sama teman-teman dan kami berjanji tidak terlambat lagi”. Saya melihat penyesalan dari wajah mereka dan saya mengapresiasi mereka karena sudah bertanggung jawab atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Kemudian saya bertanya lagi kepada murid yang kehabisan bensin, ”apa yang akan kamu lakukan agar tidak terlambat lagi ke  sekolah? Dia menjawab, “saya akan mempeersiapkan kebeutuhan seekolah saya sejak malam dan mengecek kondisi sepeda motor saya”. Setelah itu, saya persilahkan mereka masuk ke ruang kelas dengan membawa surat izin masuk kelas. 

Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Budaya Positif menyadarkan saya akan pentingnya guru memahami kondisi lingkungan dan kondisi murid dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Saya merasa senang dengan restitusi yang dilakukan, saya merasa puas dan bahagia karena murid saya dapat bertanggung jawab dan menyadari disiplin itu penting untuk kemajuan belajar mereka.    

Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Hal yang sudah baik adalah penerapan keyakinan kelas yang dibuat berdasarkan usulan murid, dan disepakati bersama guru dan seluruh murid di kelas. Hal yang perlu diperbaiki adalah bagaimana dapat memposisikan diri sebagai manajer. 

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

Sebelum mempelajari modul ini, posisi yang sering saya gunakan dalam menghadapi murid yang sedang mengalami kesalahan adalah posisi teman dan pemantau. Perasaan saya pada saat itu penuh kkhawatiran, karena takut apabila akhirnya akan membiarkan mereka tetap berada dalam kesalahan. Jika tidak efektif, maka saya cenderung memposisikan diri sebagai penghukum. Namun terkadang kekhawatiran saya lebih tinggi, karena takut murid saya akan merasa sakit hati dan tidak menyukai saya karena saya menyadari posisi itu membuat murid merasa tidak nyaman.

Setelah mempelajari modul ini, saya saat ini leebih bisa mengontrol diri untuk tidak mudah emosi dan berusaha sebaik mungkin meerasa ingin tahu hal apa yang mendasari murid saya melakukan sebuah kesalahan, saya mmilih mmposisikan diri sebagai manajer. Saya merasa puas dan bangga dapat meenuntut murid untuk dapat mencarikan solusi dari masalah yang mereka hadapi sendiri serta dapat membuat murid memiliki keyakinan kelas dan bertanggung jawab.    

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Sebelum mempelajari modul 1.4, saya pernah menerapkan segitiga restitusi tetapi belum maksimal. Tahapan yang pernah saya lakukan adalah validasi tindakan dan menanyakan keyakinan. Namun pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan belum mengena di hati murid saya karena kurangnya pengetahuan saya yang seharusnya saya memposisikan diri sebagai manajer. 

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Menurut saya, hal-hal penting lainnya utuk dipelajari adalah bagaimana melibatkan pihak-pihak terkait di lingkungan sekolah ikut berpartisipasi dalam mewujudkan Budaya Positif di sekolah, karena budaya positif tidak dapat diwujudkan sendiri, kolaborasi dengan seluruh pihak di sekolah sangat berpengaruh terhadap budaya positif.


TERIMA KASIH


RANCANGAN AKSI NYATA 1.4  

(KLIK DISINI)



PROFIL GURU PENGGERAK

  Yuniva Elwijaya GURU PENGGERAK KABUPATEN SIAK Nama   Lengkap            : Yuniva Elwijaya, S.Pd. Nama Panggilan          : Yuniva ( Bu Iv...