Sabtu, 08 Oktober 2022

Tugas Koneksi Antar Materi 2.3 Coaching

   


        Pembelajaran pada modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik kali ini menyadarkan saya tentang peran seorang guru, bahwa guru merupakan coach bagi murid-muridnya. Guru menghargai tiap murid memiliki potensinya masing-masing, tugas guru adalah menggali potensi yang ada dalam diri murid. Dengan melakukan coaching kepada murid, diharapkan seorang guru dapat menggali potensi dalam diri murid untuk melakukan refleksi dan menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya sendiri.
     Selain itu, pelaksanaan supervisi yang biasa dilakukan untuk perbaikan proses pembelajaran di kelas, oleh Kepala sekolah kepada gurunya, juga harus dilaksanakan dengan paradigma coaching.
         Mengingat pelaksanaan supervisi di kelas yang telah lalu, selama menjadi guru, Meskipun sudah dibuatkan jadwal supervisi, sehari sebelumnya sudah tentu merasa was-was, jantung berasa berdetak lebih kencang dari hari biasanya, bahkan pagi menjelang supervisi diminta bertemu dulu dengan Kepala Sekolah, dan menyerahkan administrasi. Dengan menguasai emosional, sambil berkata kepada diri sendiri, bahwa supervisi dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar lebih sempurna, tak dapat disangkal bahwa perasaan kacau balau itu menghantui langkah menuju ruang kelas, berharap murid di kelas dapat kooperatif.
   Momok menakutkan itu harusnya tidak terjadi apabila supervisi yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan rutin dimulai dari pemantauan rencana pembelajaran, pelaksanaan serta penilaian pembelajaran. Sebelum dilaksanakan supervisi, perlu dilakukan wawancara Kepala Sekolah sebagai supervisor dengan guru yang akan disupervisi dan menyepakati hal-hal apa saja yang akan diobservasi, sehingga tidak terjadi miskomunikasi mengenai tujuan supervisi antara supervisor dan guru yang akan disupervisi. Perlu seorang supervisor menyampaikan bahwa kegiatan supervisi memberi pemahaman tentang cara-cara baru dalam mengajar di kelas agar materi pembelajaran disajikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan murid.
    Setelah mempelajari modul ini saya menemukan solusi atas ketakutan guru saat akan disupervisi oleh Kepala Sekolah, yang mana dalam modul ini kita memahami bahwa perlu adanya paradigma coaching dalam melaksanakan supervisi untuk dapat mengembangkan diri seorang pendidik, serta menggali potensi yang sudah ada dalam diri guru untuk membatunya mereflesikan proses pembelajaran yang telah dilakukannya.

           Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999)

Coaching merupakan Sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.

Paradigma berpikir coaching, yaitu fokus pada coachee yang ingin dikembangkan, bersifat terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat serta mampu melihatpeluang baru dan masa depan.  

Menjadi seorang coach bukanlah sesuatu yang mudah, butuh latihan untuk memahami kompetensi inti coaching .  Adapun kompetensi inti coaching yang harus terus dilatih adalah presence (kehadiran penuh), mendengarkan aktif, dan dapat mengajukan pertanyaan yang berbobot.  

Salah satu referensi yang digunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure:

Sumber: KEMDIKBUDRISTEK 

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask  yang akan dijelaskan sebagai berikut:

R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee.  Perhatikan kata kunci yang diucapkan. 

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee.  Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”.  Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain atau sibuk mencatat.

S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk  memastikan pemahaman kita sama.  Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee.

A (Ask/Tanya).  Sama dengan apa yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot

Dibutuhkan kemampuan seorang coach untuk dapat menavigasi tujuan dan arah percakapan yang dibutuhkan coachee dengan menggunakan acuan interaksi berikut ini (Costa dan Garmston, 2016): Percakapan untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi. acuan umum sebuah alur percakapan coaching yang akan membantu peran coach dalam membuat percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA.

TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.  Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee).

2. Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)

3.  Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

4.  TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)

        Coaching sangat sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang enekankan bahwa tujuan pendidikan itu adalah menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya.Oleh karena itu peran seorang guru (Coach) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselataman dan kebahagian sebagai manusia atau anggota masyarakat.

Kegiatan coaching merupakan salah satu proses "menuntun" kemerdekaan belajar murid dalam kegiatan pembelajaran di sekolah untuk mengeksplorasi dirinya guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya . Proses Coaching merupakan Proses aktivasi kerja otak murid dengan pertanyaan reflektif.Pertanyaan reflektif  membuat murid  dapat berpikir kritis.

Coaching menjadikan murid nyaman untuk mengeksplorasi dirinya karena prinsipnya adalah kemitraan (setara, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah seperti sorang rekan berpikir untuk menyelesaikan masalahnya sendiri). Prinsip kedua adalah sebuah proses kreatif (mengantarkan seseorang dari situasi dia saat ini ke situasi yang diinginkannya di masa depan). Pinsip ketiga adalah memaksimalkan potensi (perlu adanya tindak lanjut yang diputuskan oleh cochee itu sendiri).

Coaching  menjadikan murid sebagai mitranya, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menuntun tumbuh kembang anak didik. Selain menjadi seorang pendidik yang profesional guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik. Keterampilan coaching memberikan dampak yang positif terhadap profesi seorang guru. Karena dengan melakukan coaching seorang guru akan lebih mengetahui kekuatan muridnya, akan bisa memahami karakter murid serta guru juga bisa menjadi mitra untuk murid-muridnya. Dengan melakukan kegiatan coaching maka guru akan lebih mudah dalam mengidentifikasi kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapi oleh murid. 

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, murid akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.

Dengan adanya coaching guru bisa membimbing murid sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya.Sehingga anak didik mampu mengekspolari kekuatan yang dimilikinya. Guru sebagai fasilitator akan menuntun muridnya untuk tumbuh kembang mencapai kodratnya.

Selain itu, coaching dengan rekan sejawat, juga merupakan salah satu peran guru penggerak yaitu dapat menjadi coach bagi rekan guru lain. Membantu rekan guru lain untuk juga mengembangkan dirinya melalui refleksi terhadap kompetensi yang dimiliki, untuk dapat menyediakan menfasilitasi pembelajaran yang berpihak pada murid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL GURU PENGGERAK

  Yuniva Elwijaya GURU PENGGERAK KABUPATEN SIAK Nama   Lengkap            : Yuniva Elwijaya, S.Pd. Nama Panggilan          : Yuniva ( Bu Iv...