Selain itu, pelaksanaan supervisi yang biasa dilakukan untuk perbaikan proses pembelajaran di kelas, oleh Kepala sekolah kepada gurunya, juga harus dilaksanakan dengan paradigma coaching.
Mengingat pelaksanaan supervisi di kelas yang telah lalu, selama menjadi guru, Meskipun sudah dibuatkan jadwal supervisi, sehari sebelumnya sudah tentu merasa was-was, jantung berasa berdetak lebih kencang dari hari biasanya, bahkan pagi menjelang supervisi diminta bertemu dulu dengan Kepala Sekolah, dan menyerahkan administrasi. Dengan menguasai emosional, sambil berkata kepada diri sendiri, bahwa supervisi dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran agar lebih sempurna, tak dapat disangkal bahwa perasaan kacau balau itu menghantui langkah menuju ruang kelas, berharap murid di kelas dapat kooperatif.
Momok menakutkan itu harusnya tidak terjadi apabila supervisi yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan rutin dimulai dari pemantauan rencana pembelajaran, pelaksanaan serta penilaian pembelajaran. Sebelum dilaksanakan supervisi, perlu dilakukan wawancara Kepala Sekolah sebagai supervisor dengan guru yang akan disupervisi dan menyepakati hal-hal apa saja yang akan diobservasi, sehingga tidak terjadi miskomunikasi mengenai tujuan supervisi antara supervisor dan guru yang akan disupervisi. Perlu seorang supervisor menyampaikan bahwa kegiatan supervisi memberi pemahaman tentang cara-cara baru dalam mengajar di kelas agar materi pembelajaran disajikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan murid.
Coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999)
Coaching merupakan Sebuah proses kolaborasi
yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach
memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran
diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee.
Paradigma berpikir coaching,
yaitu fokus pada coachee yang ingin dikembangkan, bersifat terbuka
dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat serta mampu melihatpeluang
baru dan masa depan.
Menjadi seorang coach
bukanlah sesuatu yang mudah, butuh latihan untuk memahami kompetensi inti coaching . Adapun kompetensi inti coaching yang harus terus dilatih adalah presence (kehadiran penuh), mendengarkan aktif, dan dapat mengajukan
pertanyaan yang berbobot.
Salah satu referensi yang digunakan untuk mengajukan pertanyaan
berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh
Julian Treasure:
R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semAskua
informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan
kata kunci yang diucapkan.
A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon
atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan,
dengan kontak mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita
memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan
situasi lain atau sibuk mencatat.
S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang
diucapkan coachee.
A (Ask/Tanya). Sama dengan apa
yang sudah disampaikan sebelumnya terkait kiat mengajukan pertanyaan berbobot
Dibutuhkan kemampuan seorang coach untuk dapat
menavigasi tujuan dan arah percakapan yang dibutuhkan coachee dengan
menggunakan acuan interaksi berikut ini (Costa dan Garmston, 2016): Percakapan
untuk perencanaan, Percakapan untuk pemecahan masalah, Percakapan untuk
berefleksi, Percakapan untuk kalibrasi. acuan umum sebuah alur percakapan coaching
yang akan membantu peran coach dalam membuat percakapan coaching menjadi
efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA.
TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua
pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung.
Idealnya tujuan ini datang dari coachee).
2. Identifikasi (Coach melakukan
penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan
dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)
3. Rencana Aksi (Pengembangan ide atau
alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)
4. TAnggungjawab (Membuat komitmen atas
hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)
Kegiatan coaching
merupakan salah satu proses "menuntun" kemerdekaan belajar murid
dalam kegiatan pembelajaran di sekolah untuk mengeksplorasi dirinya guna
mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya . Proses
Coaching merupakan Proses aktivasi
kerja otak murid dengan pertanyaan reflektif.Pertanyaan reflektif membuat
murid dapat berpikir kritis.
Coaching menjadikan murid nyaman untuk mengeksplorasi
dirinya karena prinsipnya adalah kemitraan (setara, tidak ada yang lebih tinggi
dan lebih rendah seperti sorang rekan berpikir untuk menyelesaikan masalahnya sendiri).
Prinsip kedua adalah sebuah proses kreatif (mengantarkan seseorang dari situasi
dia saat ini ke situasi yang diinginkannya di masa depan). Pinsip ketiga adalah
memaksimalkan potensi (perlu adanya tindak lanjut yang diputuskan oleh cochee itu sendiri).
Coaching menjadikan murid sebagai mitranya, salah satunya
adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran,
dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan
belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta
didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta
didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang
berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan
terhadap tanaman jagung yang justru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh
dengan baik”
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menuntun
tumbuh kembang anak didik. Selain menjadi seorang pendidik yang profesional
guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik. Keterampilan coaching memberikan dampak yang positif
terhadap profesi seorang guru. Karena dengan melakukan coaching seorang guru akan lebih mengetahui kekuatan muridnya, akan bisa memahami karakter murid serta guru juga bisa menjadi
mitra untuk murid-muridnya. Dengan melakukan kegiatan coaching maka guru akan lebih mudah dalam mengidentifikasi
kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapi oleh murid.
Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek
coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang
diberikan guru, murid akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir
melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang
dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu
yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma
sosial dan keselamatan.
Dengan adanya coaching
guru bisa membimbing murid sesuai dengan minat dan bakat yang
dimilikinya.Sehingga anak didik mampu mengekspolari kekuatan yang
dimilikinya. Guru sebagai fasilitator akan menuntun muridnya untuk tumbuh
kembang mencapai kodratnya.
Selain itu, coaching
dengan rekan sejawat, juga merupakan salah satu peran guru penggerak yaitu
dapat menjadi coach bagi rekan guru lain.
Membantu rekan guru lain untuk juga mengembangkan dirinya melalui refleksi terhadap
kompetensi yang dimiliki, untuk dapat menyediakan menfasilitasi pembelajaran
yang berpihak pada murid.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar