PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
YUNIVA ELWIJAYA
CGP ANGKATAN 5 KAB. SIAK
1. Buatlah
kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam
Pengelolaan Sumber Daya’ dan bagaimana Anda bisa mengimplementasikannya di
dalam kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.
Pengelolaan Sumber Daya terdiri atas dua jenis yaitu Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) dan Pendekatan berbasis aset (asset-based approach). Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik sehingga membuat perasaan pesimis. Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) merupakan cara praktis menggali hal-hal yang positif sehingga timbul perasaan optimis walaupun dengan sumber daya yang minim. Seorang pemimpin hendaknya melakukan pengelolaan sumber daya menggunakan pendekatan berbasis asset dan menerapkannya di dalam ekosistem sekolah, baik di kelas, sekolah maupun masyarakat sekitar sekolah.
Kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar pada dasarnya merupakan sumber daya. Semuanya bisa dikelola dengan baik berdasarkan kekuatan dan potensinya masing-masing. Namun demikian, ketiganya juga menjadi sasaran kebermanfaatan dari sumber daya yang ada. Implementasi pengelolaan sumber daya akan berhasil apabila terlebih dahulu CGP melakukan pemetaan atau identifikasi 7 aset yang dimiliki sekolah beserta strategi pemanfaatannya. Ketujuh aset tersebut, yaitu modal manusia, fisik, sosial, lingkungan/alam, finansial, politik serta agama dan budaya.
Dengan membangun sisi positif yang dimiliki, maka kekuatan sumber daya yang ada dipastikan akan meningkat dan kemudian akan berkembang secara berkelanjutan. Untuk itu, tentu dibutuhkan banyak hal diantaranya, perencanaan kegiatan yang matang, koordinasi dengan kepala sekolah, pemetaan aset sekolah, diseminasi kepada sejawat melalui pelatihan pemanfaatan blog, dan kolaborasi dengan semua pihak.
2. Jelaskan dan berikan contoh bagaimana hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.
Proses pembelajaran murid yang lebih berkualitas, dapat
diwujudkan melalui optimisme seorang pemimpin pembelajaran dalam mengelola sumber
daya yang tepat. Pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses
pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas. Hal ini menyesuaikan dengan
kebutuhan dan potensi yang ada pada murid. Jika sudah sesuai tentu murid akan
merasa bahagia karena terlibat langsung dalam proses pengelolaannya. Selain
itu, juga akan bahagia karena menjadi bagian sebuah proses. Hal ini akan
membuat murid merasa memiliki aset yang ada di kelas dan sekolah mereka.
Rasa memiliki ini akan membuat mereka lebih menghargai dan menjaganya. Kondisi seperti ini akan membuat kelas menjadi lebih kondusif. Kondisi hati bahagia yang didukung kelas menyenangkan akan membuat murid menjadi lebih tergerak untuk belajar. Pada akhirnya dari kesungguhan belajar akan dapat menciptakan murid berkualitas. Tentu juga murid lebih memahami nilai-nilai kebajikan yang diyakini saat pengelolaan aset kelas.
3. Berikan
beberapa contoh bagaimana materi ini juga berhubungan dengan modul lainnya yang
Anda dapatkan sebelumnya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak.
Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya
merupakan upaya mengelola segala kekuatan dan potensi yang
ada melalui tuntunan, sehingga murid bisa bertumbuh dengan bahagia menjadi manusia
seutuhnya sesuai kodrat, baik sebagai individu maupun anggota
masyarakat.
Dari kesimpulan di atas, terdapat beberapa kata kunci yang menghubungkan materi pengelolaan sumber daya dengan materi lainnya. Kata-kata kunci ditunjukkan dengan cetak tebal dalam kesimpulan di atas, yaitu kekuatan dan potensi, tuntutan, murid, bertumbuh, bahagia, manusia seutuhnya, kodrat, dan anggota masyarakat.
a. Filosofi KHD
(Modul 1.1)
Ki Hadjar menjelaskan bahwa
tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak,
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya
baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat."
Anak-anak disini adalah murid yang merupakan modal manusia yang terdapat di sekolah yang dapat dikembangkan potensinya.
b. Nilai dan
Peran Guru Penggerak
Guru dalam hal ini adalah modal manusia sebagai pemimpin pembelajaran yang memiliki nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Seorang guru juga berperan sebagai pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, serta mewujudkan kepemimpinan murid. Dengan nilai dan peran guru penggerak yang dimiliki oleh guru, maka modal manusia yang dimiliki akan menjadi potensi/asset yang kuat demi kepentingan murid.
c. Visi Guru Penggerak
Visi guru penggerak berbasis IA (Inkuiri Apresiatif) yang dituangkan dalam canvas BAGJA, juga dipakai dalam pengelolaan sumber daya. Menurut Cooperrider & Whitney (2005), Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan.
d. Budaya
Positif
Budaya positif adalah sikap, nilai-nilai kebajikan, keyakinan-keyakinan, kegiatan-kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh guru dan murid dari dalam dirinya dan mempunyai dampak positif terhadap oranglain. Menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi tidak dapat dilakukan oleh sendiri. Butuh kerja sama semua unsur untuk mendukung terciptanya budaya sekolah.
e. Pembelajaran
Diferensiasi
Pembelajaran Berdiferensiasi
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terdapat keputusan guru
untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas yang berorientasi kepada
kebutuhan murid yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran, respon guru,
lingkungan belajar, manajemen kelas dan penilaian berkelanjutan.
Pembelajaran berdiferensiasi ini dapat terwujud dengan pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah, baik itu modal manusia (guru dan murid), modal fisik, modal budaya, dll.
f. Pembelajaran
Sosial dan Emosional
PSE adalah Pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Komunitas dalam hal ini adalah kumpulan manusia yang terdapat dalam modal manusia. PSE juga dapat menggunakan modal fisik juga modal lingkungan yang ada di sekolah. Dengan mengoptimalkan sumber daya di sekolah sehingga capaian PSE akan maksimal.
g. Coaching (Modul 2.3)
Choacing adalah suatu kegiatan kolaborasi yang dilakukan untuk membantu memaksimalkan potensi lawan bicara (choachee). Pengembangan kekuatan dan potensi diri inilah yang menjadi tugas seorang coach (pendidik/pamong). Apakah pengembangan diri seorang coachee cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang coachee. Pengembangan potensi ini sama dengan yang digunakan dalam pengelolaan sumber daya. Dalam hal ini modal manusia dalam menuntun segala kodrat alam.
h. Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan (Modull 3.1)
Seorang pemimpin pembelajaran akan selalu dihadapkan dengan dua situasi yaitu dilema etika dan bujukan moral ketika dihadapkan dengan pengambilan keputusan yang tepat. Dengan bekal pengetahuan pengambilan keputusan yang baik, seorang pemimpin pembelajaran diharapkan dapat merumuskan keputusan dengan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Hal tersebut sangat berkaitan dengan pengelolaan asset atau sumber daya sekolah untuk kepentingan murid.
4. Ceritakan
pula bagaimana hubungan antara sebelum dan sesudah Anda mengikuti modul ini,
serta pemikiran apa yang sudah berubah di diri Anda setelah Anda mengikuti
proses pembelajaran dalam modul ini.
Sebelum mempelajari modul 3.2 tentang pemimpin
pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya, terkadang saya masih berpikir
berbasis kekurangan sehingga apa perasaan akan mengarah pada sisi negative,
pesimis dan kegagalan. Tetapi setelah mempelajari modul ini, seorang pemimpin
harus selalu berpikir berbasis kekuatan/potensi/asset sehingga akan berpikir
positif dan berhasil walaupun mempunyai asset yang kurang. Maka selanjutnya
saya akan terus merubah paradigma bahwa Pemimpin pembelajar harus menggunakan
pendekatan berbasis asset dalam pengelolaan sumber daya dan
mengimplementasikannya di dalam kelas, sekolah maupun masyarakat sekitar
sekolah. Karena dengan lebih banyak membangun sisi positif yang dimiliki, maka
kekuatan sumber daya yang ada dipastikan akan meningkat dan kemudian akan
berkembang secara berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar